Tahukah
anda apa itu Radar Surabaya, sebelumnya kita mengenal dahulu tentang salah satu
Koran yang populer tersebut. Radar Surabaya, ya sesuai namanya Koran tersebut
90% berisikan berita tentang hal – hal yang terjadi di kota Pahlawan tersebut,
baik berita dari ekonomi, kriminal hingga hiburan. Radar Surabaya merupakan Koran
yang sudah berdiri sendiri dan mempunyai kantor di gedung Graha Pena Surabaya,
Radar Surabaya merupakan ide dari Dahlan Iskan, pak Dahlan Iskan pun juga
mendirikan radar – radar lainnya di pulau jawa hingga bali dengan total kurang
lebih 22 radar. Sesuai keinginan beliau radar – radar tersebut memiliki
kekuasaan otonom, dengan maksud agar dapat berkembang dan maju. Kebanyakan koran
radar tersebut ikut masuk dalam satu buah koran Jawa Pos sehingga memiliki
halaman sendiri.
Nah sekarang
kita pelajari apa suka duka seorang jurnalistik dan juga apa saja proses yang
dilakukan seorang jurnalistik. Jurnalistik bukan sebuah pekerjaan yang dimana
isinya tentang menulis berita saja. Menjadi seorang jurnalistik harus mempunyai
passion dan telaten dalam bidang tersebut, karena menjadi seorang jurnalistik
bukan segampang yang ada di tv. Seorang jurnalistik setiap harinya ditutuntut
akan deadline untuk membawakan 2 - 3 berita per hari, bukanlah hal yang mudah
sekalipun bagi seorang jurnalistik sendiri. Setelah berita itu didapat seorang jurnalistik
harus melakukan editing baik menulis berita tersebut, menampilkan foto dan juga
menjadikan berita tersebut menarik untuk dibaca.
Setiap setelah
selesai menyelesaikan berita langkah selanjutnya ialah menyetor hasil tersebut
kepada redaktur. Redaktur ialah orang yang bertanggung jawab atas berita yang
dimuat di dalam Koran. Biasanya redaktur memegang masing – masing halamannya. Dan
redaktur pun akan mengoreksi berita sang jurnalis sebelum di cetak. Ketika seorang
jurnalis menuliskan 6 – 7 paragraf pada beritanya jangan heran ketika Koran telah
dicetak maka hasil dari berita anda menjadi 3 – 4 paragraf saja. Karena masing –
masing redaktur mempunyai standartnya masing – masing.
Jika
setelah menulis berita selesai bukan berarti tugas seorang jurnalis telah usai.
Setelah setiap akhir pekerjaan seorang jurnalis pasti melaporkan kepada
redaktur untuk menanyakan penugasaan yang diberikan, jikalau tidak ada pun
seorang jurnalis harus hunting berita sendiri. Karena sepeti kita tahu Koran akan
terbit setiap harinya dan tidak mungkin suatu koran tidak berisikan sebuah berita.
Namun jikalau deadline benar – benar di depan mata dan seorang jurnalis tidak
mendapatkan beritanya maka sang redaktur memiliki cara untuk mengisi ke
kosongan pada sebuah halaman Koran. Cara tersebut biasa disebut dengan Stopper,
cara Stopper ini merupakan cara dimana sang redaktur menggantikan halaman
kosong tersebut dengan iklan berbaris, promosi, karikatur, kuis dan lain
sebagainya. Hal ini dilakukan untuk tetap mendongkrak citra Koran
maupun redaktur sendiri.


No comments:
Post a Comment