Friday, April 4, 2014

Kunjungan ke Radar Surabaya dan Serba - Serbi Jurnalistik


Tahukah anda apa itu Radar Surabaya, sebelumnya kita mengenal dahulu tentang salah satu Koran yang populer tersebut. Radar Surabaya, ya sesuai namanya Koran tersebut 90% berisikan berita tentang hal – hal yang terjadi di kota Pahlawan tersebut, baik berita dari ekonomi, kriminal hingga hiburan. Radar Surabaya merupakan Koran yang sudah berdiri sendiri dan mempunyai kantor di gedung Graha Pena Surabaya, Radar Surabaya merupakan ide dari Dahlan Iskan, pak Dahlan Iskan pun juga mendirikan radar – radar lainnya di pulau jawa hingga bali dengan total kurang lebih 22 radar. Sesuai keinginan beliau radar – radar tersebut memiliki kekuasaan otonom, dengan maksud agar dapat berkembang dan maju. Kebanyakan koran radar tersebut ikut masuk dalam satu buah koran Jawa Pos sehingga memiliki halaman sendiri.

Nah sekarang kita pelajari apa suka duka seorang jurnalistik dan juga apa saja proses yang dilakukan seorang jurnalistik. Jurnalistik bukan sebuah pekerjaan yang dimana isinya tentang menulis berita saja. Menjadi seorang jurnalistik harus mempunyai passion dan telaten dalam bidang tersebut, karena menjadi seorang jurnalistik bukan segampang yang ada di tv. Seorang jurnalistik setiap harinya ditutuntut akan deadline untuk membawakan 2 - 3 berita per hari, bukanlah hal yang mudah sekalipun bagi seorang jurnalistik sendiri.  Setelah berita itu didapat seorang jurnalistik harus melakukan editing baik menulis berita tersebut, menampilkan foto dan juga menjadikan berita tersebut menarik untuk dibaca.

Setiap setelah selesai menyelesaikan berita langkah selanjutnya ialah menyetor hasil tersebut kepada redaktur. Redaktur ialah orang yang bertanggung jawab atas berita yang dimuat di dalam Koran. Biasanya redaktur memegang masing – masing halamannya. Dan redaktur pun akan mengoreksi berita sang jurnalis sebelum di cetak. Ketika seorang jurnalis menuliskan 6 – 7 paragraf pada beritanya jangan heran ketika Koran telah dicetak maka hasil dari berita anda menjadi 3 – 4 paragraf saja. Karena masing – masing redaktur mempunyai standartnya masing – masing.



         Jika setelah menulis berita selesai bukan berarti tugas seorang jurnalis telah usai. Setelah setiap akhir pekerjaan seorang jurnalis pasti melaporkan kepada redaktur untuk menanyakan penugasaan yang diberikan, jikalau tidak ada pun seorang jurnalis harus hunting berita sendiri. Karena sepeti kita tahu Koran akan terbit setiap harinya dan tidak mungkin suatu koran tidak berisikan sebuah berita. Namun jikalau deadline benar – benar di depan mata dan seorang jurnalis tidak mendapatkan beritanya maka sang redaktur memiliki cara untuk mengisi ke kosongan pada sebuah halaman Koran. Cara tersebut biasa disebut dengan Stopper, cara Stopper ini merupakan cara dimana sang redaktur menggantikan halaman kosong tersebut dengan iklan berbaris, promosi, karikatur, kuis dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk tetap mendongkrak  citra  Koran maupun redaktur sendiri.

No comments:

Post a Comment